Thursday, April 10, 2014

Hasil Quick Count Versi LSI

Hasil quick count pemilihan umum anggota legislatif versi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memastikan kemenangan PDIP yang meraih suara 19,72% dari 97% suara yang sudah masuk.

Di urutan kedua,  Partai Golkar memperoleh 14,57%, Gerindra memperoleh 11,87%, Demokrat 9,69% dan PKB 9,06%. Di posisi selanjutnya PAN memperoleh 7,45%, PKS 6,61%, Nasdem 6,41%, dan PPP 7,02%. Hanura di posisi 10 besar dengan raihan suara 5,23%. Dua partai lainnya tidak lolos batas parlemen, yakni PBB yang hanya meraih 1,38% dan PKPI 0,98%. (ANTV)

Hasil Hitung Cepat Menurut 4 Lembaga Survei

Ini adalah hasil quick count pemilihan umum anggota legislatif versi 4 lembaga survei (Lingkaran Survei Indonesia, Indikator Politik Idonesia, Kompas dan CSIS-Cyrus): 

 

PDIP :  18,9%-19,7%  (Pileg 2009= 14,3%)
Partai Golkar: 14,3%-14,9  (Pileg 2009= 14,4%)
Partai Gerindra: 11,7% - 12,2%  (Pileg 2009= 4,4%)
Partai Demokrat: 9,6% - 10%  (Pileg 2009= 20,8%)
PKB: 8,9%-9,2%  (Pileg 2009= 5,9%)
Partai Nasdem: 6,4%-6,9%  (Pileg 2009= Belum Ikut)
PAN: 7,3% - 7,5%  (Pileg 2009= 6,0%)
PKS: 6,7% - 7,0%  (Pileg 2009= 7,9%)
PPP: 6,4% - 7%  (Pileg 2009= 5,3%)
Partai Hanura: 5,1% - 5,5%  (Pileg 2009= 3,8%)
PBB: 1,4% - 1,6%  (Pileg 2009= 1,8%)
PKPI: 0,94% - 1,1%  (Pileg 2009= 0,9%)

Hasil Quick Count 2014

Hasil Quick Count Pemilu 2014 atau hitung cepat Pemilu 2014 Pileg Legislatif 9 April oleh berbagai lembaga survey menunjukkan PDIP, Partai Golkar, dan Partai Gerindra masuk ke dalam tiga besar. Di balik keberhasilan ketiga partai politik tersebut mendulang suara dalam hasil Pemilu 2014, perolehan Partai Demokrat (PD) menukik tajam dengan kehilangan sekitar 10% suara.

Persentase hasil hitung cepat Pemilu 2014 sendiri tidak terlalu jauh berbeda. Semisal, survey Cyrus-CSIS dengan persentase sampel 97,70% mencantumkan PDI Perjuangan sebagai pemilik suara terbanyak dengan 19,00%.

Partai yang mengusung Jokowi sebagai presiden ini diikuti oleh Partai Golkar dengan 14,30%. Selanjutnya berturut-turut peringkat berikutnya adalah Partai Gerindra (11,80%), Demokrat  (PD) (9,60%), dan PKB (9,20%).

Urutan posisi partai berikutnya hingga yang terendah adalah, PAN (7,50%), PKS (6,90%), Partai Nasional Demokrat (Nasdem) (6,90%), PPP (6,70%), Partai Hanura (5,50%), PBB (1,60%), dan PKPI (1,10%).

Hitung cepat Kompas untuk Pemilu Legislatif 2014 juga tidak terlalu berubah.Dengan suara masuk sebesar 93%  PDI-P memperoleh suara terbanyak dengan 19,24%. Mereka disusul oleh Golkar dengan 15,03%. Partai Gerindra masuk ke dalam tiga besar dengan mendapatkan 11,75%.

Berikutnya Partai Demokrat menyusul dengan 9,42%. PKB ada di peringkat lima dengan memiliki suara 9,13%. Kemudian berturut-turut partai dengan perolehan suara yang masuk adalah PAN (7,49%), PKS (6,99%), Partai Nasional Demokrat (6,7%), PPP (6,7%), Partai Hanura (5,1%), PBB (1,5%), dan PKPI (0,94%).

Jika hanya melihat dari hasil quick count di atas, terlihat suara Partai Demokrat pada Pemilu 2009 kemungkinan besar lari ke PDIP dan Partai Gerindra. Sementara itu, PKB mengalami lonjakan hingga sekitar 5% dan menjadi partai berbasis massa Islam dengan perolehan suara terbanyak.

Hasil resmi perolehan akhir suara dalam Pemilu 2014 sendiri baru akan diumumkan KPU pada Mei 2014 mendatang. Quick count hanya merupakan gambaran, dan bukan hasil akhir pemilihan

Monday, September 30, 2013

JOKOWI Di Minta Selesaikan Dulu Jakarta Bukan Menyalonkan Jadi Presiden

Partai Gerindra masih tetap menginginkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk menyelesaikan tugasnya sampai 2018."Jokowi bilang sendiri akan menyelesaikan tugasnya di Jakarta," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. 

Menjelang Pemilihan Presiden 2014 nama Joko Widodo terus melambung untuk menjadi calon presiden. Beberapa survei mengunggulkan Jokowi di atas Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo.

Kalau pun Jokowi akhirnya maju sebagai calon presiden, kata Fadli, Gerindra akan menghormati keputusan tersebut. Itu adalah hak Jokowi dan partai pengusung dan dijamin oleh konstitusi.

"Tapi karena kami yang mendukung dan membawa dia ke Jakarta, kami ingin Jokowi membuat 'Jakarta baru' dulu," kata Fadli.

Kemarin, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, menyatakan secara tersirat siap bersaing dengan Jokowi dalam Pilpres 2014 mendatang. 

"Janji kami membuat 'Jakarta baru' bersama PDI Perjuangan. Sekarang masih 'Jakarta lama'," kata Fadli.

Monday, September 9, 2013

RIZIEQ SYIHAB PANTAS JADI CALON PRESIDEN 2014

Dalam Musyawarah Nasional Front Pembela Islam (FPI) ke-3 di Asrama Haji Kota Bekasi, Jawa Barat, terbuka agenda untuk mendorong Rizieq Syihab jadi calon presiden pada Pemilu 2014. Suara pencalonan Ketua DPP FPI itu sudah ramai sejak musyawarah dibuka oleh Menteri Agama RI Suryadharma Ali pada Kamis, 22 Agustus malam lalu.

Sejumlah tokoh agama yang hadir pada acara tersebut terang-terangan mencalonkan Rizieq.

Seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia K.H. Cholil Ridwan dan Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam Moh Al Khotot. "Tokoh yang paling pas untuk menjadi Presiden Indonesia 2014-2019 adalah Habib Rizieq," kata Ketua MUI Cholil Ridwan, saat memberikan sambutan.

Keinginan pencalonan itu tidak bisa serta-merta dilakukan dengan modal yang dimiliki FPI saat ini. Sebab, kata Cholil, FPI harus mengubah alur pergerakan dari organisasinya ke arah politik. "Itu jika ingin dakwah lancar, ibadah lapang," katanya.

Menurut dia, jika hal itu dilakukan FPI dan Rizieq
 benar mau maju sebagai calon presiden, maka ia kemungkinan mendapat dukungan dari umat Islam. "Insya Allah kalau Habib Rizieq mau maju, semua umat Islam di Indonesia akan mendukung," katanya.

Cholil menjelaskan, untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia harus ditempuh dengan cara menjadi pemimpin negara. Hal tersebut meniru cara Rasulullah SAW, ketika menjadi pemimpin di Madinah.  "Kalau ingin menegakkan syariat harus jadi pemimpin, melalui gerakan politik," katanya sembari menambahkan datang ke Munas FPI atas nama pribadi.

Adapun Al Khotot berpandangan, Rizieq memiliki tingkat popularitas tinggi jika dibanding dengan calon-calon presiden saat ini. "Saya yakin jika nama dia diikutsertakan, maka tingkat popularitasnya mencapai 30 persen. Apalagi jika disandingkan dengan Menteri Agama Suryadharma Ali sangat cocok," katanya.

Rizieq enggan menanggapi wacana tersebut
 dengan alasan tidak punya kendaraan politik. "Saya belum bermimpi ke arah sana, kendaraannya saja tidak ada," kata dia. Sedangkan Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan, setiap warga negara berhak mencalonkan diri sebagai presiden, termasuk Rizieq. "Asalkan memenuhi ketentuan, ada kendaraan politik yang cukup," katanya.

Sunday, August 25, 2013

Pemilu 2014 Tarik Mantan Birokrat Ke Pusaran Politik

Daftar calon tetap (DCT) Pemilu 2014 telah diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (23/8). Selain diramaikan caleg dari kalangan politisi murni dan artis, pemilu kali ini juga makin diramaikan kalangan mantan birokrat. Mereka yang selama ini berkutat dalam urusan pemerintahan dan menjadi mitra legislatif, kini mencoba peruntungan untuk menjadi legislator yang memiliki fungsi pengawasan (monitoring), anggaran (budgeting), dan legislasi. 

Bisakah mereka memainkan peran barunya di pusaran politik tersebut? Atau justru mereka hanya akan terjebak dalam pusaran politik yang justru tidak bisa membawa perubahan positif apa-apa. 

Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro menilai, terjadinya fenomena tersebut karena politik dianggap menarik dan cukup berkuasa dibandingkan hanya menjadi seorang birokrat. Menurutnya, fenomena tersebut terjadi karena saat ini orang ingin berkuasa. Sehingga politik kekuasaan ini terlihat menarik menurut beberapa kalangan. Bahkan para birokrat pun tertarik untuk mengikuti bursa lima tahunan ini.

Menurut Siti, fenomena tersebut baru terjadi pada bursa pemilu kali ini. Sejak pemilu langsung pada tahun 1999 hingga 2009 fenomena ini belum terjadi. Pada tiga kali pemilu langsung, hanya kalangan artis, pengusaha, profesional, dan media yang terjun dalam dunia politik. Namun pada pemilu 2014 ini, kalangan birokrat pun ikut tertarik.

Dikatakan Siti, jika dihitung dari saat demokrasi tahun 1998 dan pemilu tahun 1999, tidak terlihat adanya pegawai negeri sipil (PNS) yang tertarik di partai politik. Bahkan pada pemilu 2004 dan 2009 juga tidak terlihat. Fenomena tersebut baru terlihat pada pemilu tahun ini.

"Saya melihat fenomena ini semakin memperjelas, bahwa ternyata dengan demokrasi yang kita laksanakan sejak tahun 1999, telah memunculkan partai ekstrem yang cukup menggoda, baik bagi artis, pengusaha, profesional, bahkan media. Ada ketertarikan dari berbagai kalangan, termasuk saat ini kalangan birokrat," kata Siti, Jumat (23/8).

Ditegaskan Siti, saat ini orang ingin berkuasa. Dengan menjadi seorang politikus dianggap bisa berkuasa, karena menjadi legislator. Sementara saat menjadi birokrat mereka hanya sebagai eksekutor saja. "Ternyata politik ini menarik. Karena bisa dibilang adanya politik kekuasaan. Orang itu ingin berkuasa. Dengan politik itu, kepentingan kekuasannya bisa diwujudkan. Mereka bisa mengeksekusi melalui regulasi, pengawasan. Gejala politik itu ternyata menarik. Karena orang bisa berkuasa," ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan jika birokrat itu juga politikus. Sehingga seorang birokrat yang beralih ke legislatif, hanya berganti baju saja, yakni dari eksekutor menjadi legislator. Tetapi legislatif tentunya lebih berkuasa karena mereka yang merumuskan sebuah undang-undang. Berdasarkan ilmu politik kontemporer, menunjukan legislatif lebih digdaya dibandingkan eksekutif.

Tetapi, jika melihat sisi positifnya, maka perpindahan ini bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di kalangan legislatif. Sebab selama ini, meski telah didukung dengan adanya staf ahli kemampuan para wakil rakyat dianggap masih kurang.

"Sebetulnya dalam konteks itu, misalnya sekda (sekretaris daerah) menjadi anggota dewan cukup bagus, karena SDM anggota dewan di parlemen perlu ditingkatkan kualitasnya. Ketika harus berurusan dengan rancangan undang-undang menyangkut berbagai bidang seperti tata ruang dan tata kota, diperlukan keahlian. Dampak positifnya begitu," ucapnya.

Seperti diketahui, beberapa birokrat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta mengundurkan diri untuk menjadi caleg. Salah satunya yakni mantan Sekda DKI Jakarta, Fadjar Panjaitan, yang telah mengundurkan diri sejak April 2013, karena mencalonkan diri sebagai caleg DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kemudian Walikota Jakarta Barat, Burhanuddin juga mengundurkan diri dan mengikuti bursa caleg DPRD DKI dari Partai Gerindra. 

Mantan Walikota Jakarta Barat, Djoko Ramadhan, yang telah pensiun juga sebelumnya akan bertarung sebagai caleg DPRD DKI dengan nomor urut 6 dari Partai Demokrat untuk daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta IX. Namun, di detik-detik akhir namanya dicoret dari daftar calon legislatif DPRD DKI Jakarta oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta, karena dinilai telah melanggar persyaratan administrasi. Pasalnya, Djoko Ramadhan hingga kini masih menjabat sebagai Kepala Badan Pengawas di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya. Selain itu, dirinya juga belum menyerahkan form BB 4. Selain itu, Syukri Bey yang telah pensiun dari PNS dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) DKI juga tercatat sebagai caleg DPR RI nomor 1 dari Partai Gerinda dengan dapil Sumatera Barat II. 

Sunday, August 18, 2013

PILPRES DAN PILEG JADI PRIORITAS APBD 2014

Agenda Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 menjadi salah satu program prioritas pada APBD 2014. Hal itu sebagaimana fokus pembahasan dalam Kebijakan Umum Anggran Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) tahun anggaran 2014 Kota Cimahi. 

"Di antara isu strategis yang menjadi fokus pembicaraan pada KUA PPAS 2014, menyangkut agenda Pemilu 2014, yaitu berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislatif (pileg)," ungkap Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Cimahi, Hery Antasari di Pemkot Cimahi, Jln. Demang Hardjakusumah, Rabu (14/8).

Dikatakan, agenda pemilu yang menjadi isu strategis tersebut, dalam bentuk partisipasi aktif untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan pemilu, di antaranya dengan memberikan alokasi anggaran sesuai kemampuan keuangan daerah. 

Penganggaran tersebut, tambahnya, sekadar untuk mendukung alokasi anggaran yang dicanangkan pemerintah pusat melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun mengenai lokasi anggarannya, masih harus dibahas di DPRD Kota Cimahi.

Isu strategis lainnya yang juga menjadi prioritas pembahasan pada KUA PPAS 2014 di antaranya pengelolaan aset daerah, program Pusat Ekonomi Lokal (PEL), dan pembangunan infrastruktur kota. "Program PEL dan infrastruktur kota, itu sudah pasti merupakan isu strategis yang menjadi prioritas program pada APBD 2014 nanti," tandas Hery.

Sementara Wali Kota Cimahi, Hj. Atty Suharti menegaskan, KUA PPAS 2014 mengandung misi untuk meningkatkan kemudahan pelayanan kepada masyarakat dalam berbagai bidang pembangunan. Termasuk dalam kaitan dengan pemilihan umum. 

KUA PPAS, lanjut Atty, merupakan dasar penyusunan APBD 2014 yang kini tengah dibahas di DPRD. Misi untuk meningkatkan pelayanan tersebut, antara lain dengan meningkatkan kemudahan pelayanan. Di antaranya melakukan sosialisasi program kebijakan pelayanan publik agar masyarakat mengetahui dan mudah memahami pelayanan.